Sabtu, 18 Mei 2013

30 Tahun Sejarah Band Die Toten Hosen

10 April 1982, Die Toten Hosen tampil pertama kalinya di Bremen. 30 tahun kemudian hampir semua orang mengenal band punkrock asal Düsseldorf ini. Die Toten Hosen touren als Rheinpiraten durch Deutschland Die Düsseldorfer Punk-Band Die Toten Hosen (l-r) Breiti, der Sänger Campino, Wölli, Kuddel und Andi posieren am 24.7.1998 vor ihrem Konzert in Hamburg. Unter dem konspirativen Namen Rheinpiraten gab die fünfköpfige Band im ausverkauften Molotow auf der Reeperbahn ein Konzert in der Hansestadt. Die Konzerttermine erfährt nur, wer sich ein schwarzes T-Shirt mit dem Totenkopf der Hosen kauft. Auf dem Rücken wird dann das Geheimnis gelüftet, welche weiteren Bühnen die Rheinpiraten kapern werden: Düsseldorf (7.8). Frankfurt (13.8.), München (20.8.). Vom 2. September an - wieder in Hamburg - nehmen die Piraten an der Vans Warped Tour 1998 teil. Punk-Band Die Toten Hosen Bagi kota Düsseldorf, Die Toten Hosen sudah melegenda seperti Sungai Rhein dan Altbier (minuman bir khas Düsseldorf). Band beranggotakan lima personil dengan vokalis utama Campino termasuk pembawa nama terpenting ibukota negara bagian Nordrhein Westfalen tersebut. Dalam konser perdananya 10 April 1982, Campino, Kuddel, Vom, Andi dan Breiti tidak bermimpi Die Toten Hosen akan meraih kesuksesan begitu besar. Kini mereka adalah jutawan kopi rekaman, meraih berbagai penghargaan di bidang musik, dan menjadi panutan berbagai partisipasi di bidang sosial dan olah raga. Tetap Merakyat di Tengah Ketenaran Dalam tur perayaannya, Die Toten Hosen membuktikan kembali kegemarannya untuk menampilkan konser yang unik. Mereka sering tampil di ruang tamu penggemarnya atau mereka membuat kejutan dengan tampil di penjara. Bagi Campino & Co., tampilan mewah para selebritis merupakan hal yang asing. Di kota asalnya Düsseldorf mereka dikenal dengan tampilan di lapangan sepakbola, konser-konser terbuka atau di kedai minum di pojok jalan. Wolfgang Niedecken (r) von der Kölner Rockgruppe BAP im Gespräch mit Udo Lindenberg (2.v.r.) und Campino (l) von den Toten Hosen am 27.7.1986 beim WAA-hnsinnsfestival. Die Größen der deutschen Popszene traten ohne Gage bei dem Anti-WAA-Festival in Burglengenfeld auf. Rund 100.000 Rockmusikfreunde und WAA-Gegner kamen für zwei Tage in der Oberpfalz um friedlich und musikalisch gegen die geplante Wiederaufarbeitungsanlage im 20 Kilometer entfernten bayerischen Wackersdorf zu demonstrieren. Die Toten Hosen ikut pentas gratis dalam demo anti nuklir di Burglengenfeld 1986 Kritisi musik Philipp Holstein menjelaskan fenomena Die Toten Hosen: "Pria-pria ini sebetulnya setia pada dirinya. Sikapnya masih selalu punkrock. Semakin lama saya di Düsseldorf, semakin jelas bagi saya, betapa penting mereka bagi kota ini dan juga untuk seluruh Jerman." Demikian Holstein. Tidak heran, karena Die Toten Hosen mengklaim posisi. Mereka terkenal untuk pesan-pesannya yang lugas, memobilisir aksi menentang energi atom atau Nazi atau juga berpose tanpa busana untuk kampanye anti busana dari bulu hewan. Catatan Sukses dan Catatan Krisis Konser ke-1000 Die Toten Hosen 15 tahun lalu, hampir berarti berakhirnya lebih dini karir para musisi band punkrock tersebut. Tewasnya remaja berusia 16 tahun karena berdesakan di depan panggung memicu perdebatan besar di dalam band. Setengah tahun setelah insiden itu Campino mengatakan: "Meskipun kedengarannya aneh, tapi kami bukan lagi band yang sama seperti dulu. Ada sebagian besar kenaifan yang hilang. Justru adegan meloncat ke tengah-tengah penonton, tidak lagi dapat dilakukan." Der Leadsänger der deutschen Rockband Die Toten Hosen, Campino, springt am Freitagabend (21.11.2008) bei einem Auftritt mit der Band auf einer Bühne in der SAP Arena in Mannheim. Die bekannteste deutschsprachige Punkrockband startete ihre machmalauter-Tour. Die Tour geht bis 2009 und macht nach Mannheim im sächsischen Chemnitz sowie in Hamburg Station. Foto: Ronald Wittek dpa/lsw +++(c) dpa - Bildfunk+++ Campino, vokalis utama Die Toten Hosen saat konser di Mannheim 2008 Tapi band itu mampu melewati krisis dan terus berkarya. Dari segi musikalitas, neraca 30 tahun perjalanan Die Toten Hosen amat mengesankan. Terobosan besar berhasil mereka capai tahun 1988 dengan album "Ein kleines bisschen Horrorschau" dan titel lagu unggulannya "Hier kommt Alex." Tanpa Batas Generasi, Tanpa Batas Negara Dengan melodi yang sederhana dan teks yang mudah dimengerti, lagu-lagu mereka digemari. Penggemar Die Toten Hosen tidak terbatas generasi. Tidak jarang orang tua dan anak-anak bersama-sama nonton konser band asal Düsseldorf itu. Yang juga menarik adalah fenomena kegandrungan warga Argentina terhadap band tersebut. Selama 20 tahun band itu begitu digemari di negara Amerika Latin tersebut seperti di Jerman. Die Toten Hosen vor der Casa Rosada *** DW/Victoria Eglau CMS: 04.2009 Die Toten Hosen di depan Casa Rosada Argentinia Tanggal 4 Mei setelah empat tahun menunggu, muncul kembali CD baru Die Toten Hosen. Banyak beredar desas-desus, bisa jadi ini album CD terakhir band punkrock itu. Apalagi bila mengingat Juni 2012, Campino akan merayakan ulang tahun ke-50. Terlepas dari berapa lama Die Toten Hosen masih akan bertahan, satu hal sudah pasti: mereka sudah memesan makam bersama di sebuah pekuburan di Düsseldorf.

Minggu, 25 September 2011

Esok Lusa

pabila datang esok lusa,
hari ini takkan kembali.
dan mentari terus bersinar,
pagi di timur dan sore di barat.

jika aku masih diam,
tatkala datang esok lusa,
serta waktu terus berpijar,
takkan sampai gapai mentari.

Rabu, 27 April 2011

ANGGARAN BERTAMBAH-MASALAH PENDIDIKAN BELUM TERJAWAB

UUD 1945 Pasal 31:
a).Ayat (1): Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. b). Ayat (2): Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar 9 Tahun dan, pemerintah wajib membiayainya. c).Ayat (4): negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari ABN-APBD.

Minggu, 03 April 2011

GUBUK SANG JELATA

Fadil.

Dirumah reot ini aku dilahirkan
Digubuk kumuh ini aku dibesarkan
Dalam pelukan kasih ayah dan bunda
Disiang dan malam hari
Bunda selalu bercerita
Tentang negeri yang kaya raya
Adalah harapan hidup bahagia
Sejengkal tanah ini menjadi sandaran hidup dihari esok
Sebab hamparan sawah ladang yang luas nan subur telah di kuasai
Oleh begundal-begundal yang tak pernah kenal kenyang
Setumpuk cita-cita membeku dalam jiwa
Terendapkan oleh angkuh dan rakusnya penguasa.’’
(‘Desa Teduh,27 maret 2011’)

Selasa, 29 Maret 2011

Surat Si Budy untuk Bapaknya

Ayah,

soal kita adalah soal-soal kita,
orang lain hanya bisa menggunjingkannya,

yang menyelesaikannya adalah kita juga,
maka soal-soal adalah obrolan damai di antara kita,
tak usah dengarkan yang lainnya.
aku masih sejujur aku 14 tahun yang lalu, jadi takkan aku jadi keraguan di hatimu.

Kamis, 22 Juli 2010

Durafi Dan Mimpinya

Sebuah adat usang.

 Betapa Bahagianya Ia.
Berlari dan terus berlari tanpa henti-hentinya tersenyum. Sesekali ia tertawa girang yang keras dengan nafas terengah. Nilai kelulusan SD-nya sangat tinggi, ia dapat rangking satu, tak terkalahkan alias paling pintar antara teman-temannya, jika begini akan mudah untuk masuk sekolah menengah pertama favorit yang diinginkannya. Dia pasti akan mempertahankan prestasi kepintarannya. Pelajaran matematika akan dihajar olehnya sampai mampus dan bertekuk lutut padanya.

Sabtu, 05 Juni 2010

Watak Dan Karakter Seni Dan Budaya


Setiap orang memiliki apresiasi terhadap seni, baik itu seni sastra, seni rupa, seni peran, seni swara, seni tari dan bentuk lainnya. Oleh karenanya seni dan budaya menjadi salah satu media yang paling efektif dalam menyebarkan dan menanamkan suatu nilai-nilai (ajaran), baik itu bersifat penindasan ataupun pembebasan.

Oleh karena itu, dalam mengekspresikan seni, penting bagi kita memahami dan meletakkan sandaran seni yang sekaligus menjadi moral seniman itu sendiri. Ada tiga moral dalam seni, yaitu:


a. Seni/budaya feudal

Adalah seni-budaya yang tangungjawabnya mengabdi dan untuk mempertahankan penindasan feudal. Ide-idenya tidak berasal dari situasi nyata yang dirasakan massa, tidak ilmiah, menceritakan tentang topeng kebaikan hati para tuan feudal, mengajarkan bahwa para tuan feudal merupakan titisan dewa, menyebarkan ajaran-ajaran tentang adanya kekuatan gaib sehingga membuat manusia pasrah pada nasib dan takdirnya yang tertindas dan mengharapkan perubahan nasibnya dari kekuatan-kekuatan gaib tersebut. Kesemuanya ini hanya bertujuan untuk meredam kesadaran rakyat agar tidak berlawan terhadap penindasan yang dilakukan oleh para tuan feudal.


b. Seni/budaya borjuis

Adalah seni yang tanggungjawab seninya untuk mengabdi dan menyebarluaskan gaya hidup dari ide-ide borjuis yang menindas. Ide-idenya diekspresikan melalui drama-drama bertempat di panggung yang mewah. Ceritanya tentang gaya hidup orang-orang kaya sehingga membuat orang berkhayal untuk seperti itu, khanyalan yang tidak mencerminkan situasi obyektif dan keilmiahan, cerita cinta yang terasingkan dari konsisi sosial yang mana banyak rakyat yang tertindas, cerita-cerita cabul, cerita tentang kebaikan hati Amerika Serikat, cerita yang mengagung-agungkan tokoh dengan ptronase yang berlebihan dan menganggap tokoh tersebut adalah manusia yang tidak pernah salah. Ciri-ciri senimanya adalah bersikap liberal, sok merdeka dan tidak mau dipimpin oleh tuntutan perjuangan rakyat.

Selain itu, seni dalam kepemimpinan klas borjuis, sebatas dijadikan sebagai komoditas dagang yang semakin memberikan keuntungan yang besar bagi para pemilik modal. Itu sebabnya, kebebasan berekspresi dari para pekerja seni yang dipimpin oleh klas borjuis, harus mengikuti apa yang menjadi tuntutan pasar.


c. Seni /budaya pembebasan

Adalah seninya rakyat pekerja, rakyat tertindas, aktifis massa, yang tanggungjawab seninya mengabdi kepada perjuangan rakyat. Moral senimannya bersifat jujur, sederhana, apa adanya mengungkapkan realitas kehidupan yang bertumpu pada keadilan dan melawan penindasan. Sifat dan watak karya seninya adalah tidak komersil (tidak untuk diperdagangkan), tetapi bertujuan untuk mengungkap segala bentuk penindasan terhadap rakyat sehingga menumbuhkan kesadaran rakyat untuk berjuang menuntut pemenuhan hak-haknya.

Cerita-ceritanya tentang rakyat yang kelaparan dan kemiskinan ditengah kekayaan alam yang dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing, anak-anak jalanan yang harus bekerja karena tidak sekolah karena mahalnya pendidikan, tangisan ibu karena mahalnya harga-harga kebutuhan pokok, nelayan yang bertarung dengan ganasnya gelombang, desingan mesin-mesin pabrik yang memekakan telinga klas buruh, penindasan terhadap kaum perempuan oleh budaya patriarki feudal dan machoisme imperialis, perjuangan kaum tani terhadap penindasan tuan tanah, perjuangan buruh terhadap penindasan pemilik modal, perlawanan pemuda-mahasiswa terhadap rektor yang anti mahasiswa, perlawanan rakyat terhadap rejim otoriter, dsb. Ukuran keberhasilan seninya adalah bertambahnya massa dalam barisan perjuangan rakyat, tambah beraninya massa untuk melawan musuh-musuhnya dan menuntut pemenuhan hak-hak demokratisnya.