Kamis, 22 Juli 2010

Durafi Dan Mimpinya

Sebuah adat usang.

 Betapa Bahagianya Ia.
Berlari dan terus berlari tanpa henti-hentinya tersenyum. Sesekali ia tertawa girang yang keras dengan nafas terengah. Nilai kelulusan SD-nya sangat tinggi, ia dapat rangking satu, tak terkalahkan alias paling pintar antara teman-temannya, jika begini akan mudah untuk masuk sekolah menengah pertama favorit yang diinginkannya. Dia pasti akan mempertahankan prestasi kepintarannya. Pelajaran matematika akan dihajar olehnya sampai mampus dan bertekuk lutut padanya.
Dia masih saja tersenyum, dunia terus saja terasa berbunga, mungkin karena ijazah yang ia bawa ditangannya hingga alam menyambut sempurna. Terbayang olehnya jika ia sampai dirumah, ayahnya akan memuji kepintarannya lalu berkata “jika begini, kamu harus masuk di SMP favorit nak, kamu anak yang pintar” atau ibu tersenyum sombong lalu hatinya berkata “aku yang telah melahirkannya, dia anakku”atau juga Junaid, Jawiah, Yusran dan kakak-kakaknya yang lain serta tak terlupa Ramlah adiknya akan menyambut dengan senyum haru, tawa dan bahagia. Dalam hatinya mereka berdecak salut sambil menggeleng kepala kagum.
Dunia terasa ringan, terasa tiada beban, mudah. Hingga tak pernah dipikir oleh durafi bahwasanya, ayahnya seorang yang tak mampu, yang akan dapat makan jika di gaji untuk memperbaiki pagar sawah orang. Yang pada musim panen tak perlu banyak yang bisa ia panen dan masih mengais sisa panen ubi di perkampungan lain yang sangat jauh dari perkampungan itu, tak terpikir olehnya bahwa ayahnya seorang guru ngaji yang tiap malamnya dihabiskan untuk mengajar ngaji anak-anak di kampung tanpa digaji, pun jika ada yang berbaik hati sesekali akan memberi upah, setidaknya sebagai ucapan terimakasih. Tak pernah sadar bahwa ayahnya tak memiliki tanah pusaka yang bisa dijual atau dipakai buat bertani. Bahwasanya ayahnya seorang pengembara yang menyiarkan agama Islam dan bukan penduduk asli kampung itu yang punya banyak harta kekayaan.
Ya, Ayahnya seorang Buruh tani.
Ah…sudahlah.
Durafi tak mau peduli.
Ayahnya kaya atau miskin?
Tak peduli jika ayahnya telah mengeluarkan pernyataan keras bahwa dirumah itu, sembilan bersaudara itu, yang akan disekolahkan sampai selesai dan tamat adalah Junaidin, kakaknya, karena dianggap bertubuh tidak terlalu kuat untuk mencari uang dengan bekerja, jadi Buruh tani, buruh kasar, kuli atau semacamnya. Tubuhnya kurus kecil dan untungnya, semua saudaranya kasihan padanya, hingga ia sekarang sudah duduk dikelas satu SMP dan akan naik ke kelas dua tahun ini.
Lalu dia?
Dia tetap tak peduli.
Meski sesampainya dirumah dengan menunjukkan ijazah penuh mimpi itu, pernyataan keras itu terlontar lagi dari mulut bapaknya.
***
Tubuh tua itu menutup Al-quran dengan perlahan, ia menarik nafas besar. Setitik kasih terpancar dari matanya. Air matanya terlihat dipaksa untuk tidak keluar, matanya seperti kaca bening yang dirumah itu tak mungkin mampu membelinya.
Ia masih diam, perlahan menoleh ke belakang, ditatapnya Durafi dalam-dalam, yang dari tadi hanya diam membisu, yang dalam pikirannya ingin sekolah dan sekolah.
“Durafi…….. ayah tak ingin kamu bodoh.
Ayah sebenarnya tak ingin memaksamu untuk berhenti sekolah.
Ayah tau kamu anak yang pintar yang bisa diandalkan,”
Durafi mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk, ia menatap ayahnya.
“Aku tau, di keluarga ini hanya Junaidin yang boleh sekolah, tubuhnya kecil, kurus dan sering sakit” Polos jawabnya.
“Bukan itu nak….,
Ayah orang tidak mampu. Dan Junaidin pun terpaksa ayah sekolahkan karena ayah tau, dia takkan mampu menjalani hidup yang sangat kasar kelaknya.”
“dan ayah tidak tau …?
Kata pak guru orang yang bodoh akan semakin di bodohi dinegeri ini ayah.
Kata pak guru kalau aku sekolah masa depanku akan cerah,
Aku tidak mau dibodohi ayah, melihat temanku melangkahi nilaiku saja aku tak sudi.”
Suasana hening, air mata itu tak mampu dibendungnya lagi, Bapak tua itu menangis, ia memeluk anaknya dengan penuh kasih.
“Kata pak guru………….”
“Sudahlah…..” Bapak tua itu teriak ia tiba-tiba tersentak, ia melepas peluknya dengan penuh muak.
“Pak gurumu tidak pernah bilang kan bagaimana caranya sekolah ditengah kemiskinan?
Bagaimana buruh tani ini harus menyekolahkan anaknya,?”
Durafi kecil itupun diam, ia tak mengerti, begitu polos jiwanya, yang ia tau ia masih ingin memegang buku dan pulpen, masih ingin menulis disetiap lembaran buku catatan, yang ia tau, ia masih ingin membaca setiap helai kertas buku pelajaran sekolah.
“Kamupun masih bisa belajar nak,
Belajar menghadapi takdir yang mungkin saja tak akan bisa dirubah hingga aku mati,”
Tapi Durafi masih polos, tetap saja cita-citanya ingin sekolah, tak ingin seperti kakak-kakaknya terdahulu, kecuali Junaidin. Belajar menerima takdir, belajar menjalani hidup yang ada, toh juga mereka menikah dengan orang baik-baik dan hidup berkecukupan , tapi durafi belum siap berpikir untuk menerima itu. Hingga pada suatu hari Durafi pernah bertanya pada gurunya tentang cara untuk sekolah ditengah kemiskinan tetap saja ia mendapat jawaban yang iapun tak mengerti.
“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri cinalah?”
Tapi gurunyapun tak tau, jangankan ke negeri Cina, untuk ongkos ke kotapun Durafi takkan punya. Atau pepatah lain yang dibuat gurunya “Kejarlah mimpimu setinggi langit”
Tapi Durafi dengan nafas ngos-ngosan berlari dengan penuh mimpi dari sekolah SD untuk menunjukkan niali tinggi di ijazahnya , berharap sesampai dirumah ia akan di sambut dengan penuh rasa bangga tapi apa yang ia dapat?
Tetap saja hanya Junaidin yang boleh sekolah, karena fisiknya kurang mampu diandalkan untuk bekerja yang keras-keras.
Yang Durafi tau, ia mulai merasa tak adil, begitu besar keinginannya untuk sekolah.
***




Ia tak tau seperti apa besok,
tapi hari ini Ia ingin mendaftar sekolah.

Durafi berjalan menuju sebuah perahu kecil ditepi pantai. Ia terlihat memeluk map merah yang berisi ijazahnya, terlihat pula seorang bapak yang sedang merapikan perahu untuk berlayar, sembari menunggu penumpang yang akan pergi kekota, perahu kecil itu adalah kendaraan umum untuk ke kota, saat itu, perkampungan Durafi masih kurang maju. Untuk menyeberangi laut yang penuh ombak itu saja masih menggunakan perahu kecil untuk memuat penumpang yang akan pergi ke kota . Durafi mendekati Bapak tua dengan penuh senyum.
“Pagi pak…”
“Iya…Pagi, ada apa kau?
Mau ke kota?
“Hehe… iya sih, tapi saya tidak punya ongkos, tapi…. Tapi saya bisa bantu pak untuk membersihkan perahu, mengeluarkan air dari perahu atau ikut mengangkat layar.”
“Ya sudahlah naik saja kau”

Bekerja adalah hal paling mudah untuk Durafi, jangankan membersihkan perahu atau mengangkat layar, kesehariannya adalah mengambil kayu-kayu kering digunung untuk dijual, membantu Bapaknya memperbaiki pagar yang sama sekali bukan pagar yang terbuat dari kayu, melainkan batu-batu besar yang disusun rapi, kemudian dilapisi kayu serta potongan pohon duri dari gunung. Dia memang anak yang terbiasa bekerja keras, tantangan hidup dikampungnya yang kurang maju itu membuatnya terbiasa melakukan pekerjaan berat, tak jarang pula ia mengembara bersama ayahnya ke kampung lain yang teramat sangat jauh di tempuh dengan jalan kaki hanya untuk mengais sisa-sisa hasil panen di tanah yang telah di ambil hasilnya itu, itu semua lantaran mereka tidak punya tanah untuk berladang karena mereka bukan kalangan yang mampu meraih hak atas kepemilikan tanah, keturunan mereka adalah pendatang dan bukan asli kampung itu yang mana ku dengar cerita mereka adalah berasal dari keturunan Goa yang datang untuk berkelana ke kota Bima lalu kemudian hijrah ke sebuah kampung yang bernama Sarita tepatnya di Kecamatan Donggo. Keluarga mereka bukan bangsawan atau saudagar, melainkan keluarga sederhana yang hanya saja mempuanyai sedikit wibawa social karena bapak durafi adalah seorang Tokoh yang membawa agama islam atau dalam istilah jaman itu beliau di sebut Guru. Memang, Ibu Durafi adalah anak tuan tanah besar di zaman itu, namun pilihanya untuk menikah denga ayah Durafi membuat ia tak bisa menikmati warisan atas kekuasaan itu, karna ia menikah dengan golongan yang klas sosialnya beda dengan keluarganya. Maka, keluarga itu bekerja apapun dan pada siapapun, intinya yang penting dapat makan yang halal, jadi buruh tanipun tak apa. Tak jarang pula mereka mencari ikan di laut, dengan cara yang betul-betul khas, yakni membuat jarring dari bamboo yang di belah menjadi ukuran-ukuran kecil kemudian di anyam menjadi satu pagar jarring untuk menjaring ikan, biasanya jaring ini di gunakan untuk memagari teluk-teluk kecil yang mampu di jangkau oleh jarring tersebut, dan itu di lakukan pada saat air pasang, lalu kemudian menunggu air surut lalu menangkap ikan yang tertahan oleh pagar jarring di teluk tersebut, melelahkan, memang melelahkan, tapi itulah mereka, orang-orang tak berkepimilikan alat produksi yang mencoba bertahan hidup dengan apa yang mereka bisa.
Pagi itu Ia sampai di Kota, bocah kecil anak buruh tani yang penuh semangat itu,
Ya… Durafi namanya, Dengan penuh semangat dan mimpi serta obsesi Ia berjalan dari pelabuhan itu dengan map berisi ijazah yang Ia tenteng dan modal semangat yang teramat sangat keras untuk bersekolah, sepanjang jalan itu terasa penuh bunga-bunga matahari yang membuat perjalan pagi itu berwarna-warni, beberapa lagu kebahagiaan Ia nyanyikan, tak terasa lelah akan jauhnya perjalanan itu, bayangkan saja sekolah yang Ia tuju itu terletak jauh dari pelabuhan tempat perahu yang Ia tumpangi bersandar, tapi ternyata ini bukan perdebatan masalah lelah atau capek, bukan pula masalah jarak sekolah yang jauh atau dekat, tapi ini adalah tentang kekuatan mimpi seorang bocah kecil mungil yang di rumahnya tak mendapat ijin untuk bersekolah karena tak mampu, tentang seorang bocah yang ingin pintar yang terisolasi oleh ketidakadilan dunia pendidikan yang seakah tak disuguhkan untuk orang-orang sepertinya yang miskin dan tak berada, kekuatan mimpi yang teramat besar yang lalu Ia teguhkan menjadi sebuah keyakinan untuk merubah diri dan hidupnya menjadi lebih baik atau setidaknya sedikit lebih baik dari sebelumnya, dan terang bahwa ini adalah permasalahan ketidakmerataan Hak, bagi Durafi dan orang-orang sepertinya untuk mengenyam pendidikan, setidaknya Ia tak menjadi bocah-bocah yang tiap hari mengamen di pinggir jalan yang tak bersekolah lantaran alasan yang sama, atau bocah-bocah yang tiap hari mengumpulkan botol-botol bekas untuk di jual lalu di daur ulang, begitupun anak-anak kecil yang menjajakan Koran dijalanan di setiap pagi dan durafi sendiri yang pagi ini harusnya membantu ayahnya memperbaiki pagar, mencari kayu atau menangkap ikan di laut.
Tapi pagi ini Ia sedang tak ingin di ganggu oleh apapun untuk bermimpi sepanjang dan sebanyak mungkin.
Pagi ini ia sedang membuka kecerahan sejarahnya, di tengah hiruk pikuk dunia pendidikan yang tak bersahabat, mahal, dan tak demokratis terhadap kemampuan rakyat untuk mengaksesnya, dengan penerapan biaya pendidikan yang mahal membuat durafi dan orang-orang sepertinyapun terisolasi walau hanya untuk bermimpi saja, segala sesuatu yang indah dan membuat terbuai yang tercatat dalam kontitusi bahwa pendidikan adalah tanggung jawab Negara Pembukaan UUD 1945 menyatakan bahwa Negara bertugas “mencerdaskan kehidupan bangsa” senagai salah satu tujuan nasional. Pasal 31 Amandemen UUD 1945 Ayat (1) menyatakan “Setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan” dan dalam UU SISDIKNAS NO. 20 tahun 2003, Menyatakan bahwa Pemerintah wajib menyelenggarakan pendidikan yang bermutu, jaminan pelayanan, dan kemudahan bagi rakyat (termasuk Anggaran) sebagaimana tercantum dalam pasal 5 ayat 1, pasal 11, pasal 6 ayat 1, dan 49. Dari perangkat hukum yang ada bisa dipastikan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab Negara sepenuhnnya adalah kalimat-kalimat buaian saja yang setidaknya sudah membuat kita pernah terharu oleh kalimat-kalimat itu, bahwa Indonesia negeri yang penuh kekayaan alam ini, punya tanggung jawab besar dalam memajukan taraf berpikir manusia Indonesia itu sendiri, dengan anggaran dasar 20% untuk pendidikan yang pernah kita dengar, atau dijelaskan bahwa pendidikan merupakan hak setiap warga Negara, dan Negara bertanggungjawab menyelenggarakannya dengan mengalokasikan sekurang-kurangnya 20% dari APBN dan APBD untuk pendidikan. Namum seperti pemerintah Indonesia telah menjalankan ketentuan tersebut, apakah seluruh rakyat Indonesia telah mampu mengakses pendidikan serta janji-janji yang membanggakan yang di gembar-gemborkan birokrasi-birokrasi local saat mereka mencalonkan diri, pendidikan gratislah dan semacamnya lagi-lagi menjadi omong kosong belaka.

Ya, Inilah system pendidikan kita.
Hingga saat ini, terdapat sekitar 9,7 juta rakyat Indonesia, orang-orang yang tak di pedulikan itu yang tidak bisa mengakses pendidikan. Dari jumlah tersebut, lebih dari 82 juta jiwa, merupakan usia sekolah dengan rincian 29 juta di antaranya golongan anak yang seharusnya masuk pendidikan anak usia dini (PAUD), 41 juta anak masuk golongan usia wajib belajar sembilan tahun SD dan SMP. Sedangkan 12 juta lainnya usia SMA.Hal ini dikarenakan semakin mahalnya biaya pendidikan yang diakibatkan oleh berbagai kebijakan pemerintah. Dan itu adalah angka yang tidak sedikit, atau tidak kurang banyak untuk membuktikan bahwa tanggung jawab itu tak di realisasikan, system pendidikan ini tidak merata dan demokratis, dan itu adalah ancaman bagi cita-cita anak Indonesia, layaknya Durafi yang entah esoknya akan jadi apa, mampu tidaknya dia menyelesaikan sekolah, atau harapannya akan pupus di tengah jalan lantaran alasan klasik itu.

Ya, beribu-ribu mimpi yang terkubur di kolom-kolom jembatan, di trotoar-trotoar kota, di terminal-terminal bus, di pelataran toko serta di gudang-gudang pabrik,
Mimpi anak-anak Indonesia yang sangat besar yang lalu terbunuh dan terkubur begitu saja, Lalu menggantungkan hidup pada berapa banyak lagu yang ia nyanyikan dari pagi sampai akhir petang di bus-bus, di jalanan, menggantikan mimpi-mimpi dengan menjadi buruh kecil di pasar, atau di pabrik, yang seharusnya pagi-pagi itu di laluinya di kelas yang penuh dengan tawa canda anak-anak sekolah, membaca buku, mendengar guru.
Tapi tidak. Dengan sangat terpaksa mereka telah melupakannya, meneguk dalam-dalam keinginan itu hanya karena sebuah keterbatasan yang kemudian di halalkan oleh yang seharusnya bertanggung jawab atas itu, di biarkannya menjadi suatu kewajaran agar melepas beban dan tanggung jawab itu untuk tidak memikirnya,


Tapi ia tak peduli,
Ia tak mau tau seperti apa besok,
Hari ini Ia ingin sekali mendaftar sekolah.

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar